Sabtu, 24 Mei 2014

Cerpen Tema Negosiasi


Jual Beli Bangku
Ada sepasang sahabat. Yang pertama bernama Adi dan yang kedua bernama Budi. Mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama, yaitu di SMA 4 Pati. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Rumah mereka berdua saling bersebelahan. Kebetulan juga mereka sekelas. Orang tua Adi bekerja sebagai pedagang sembako di pasar. Sedangkan keluarga Budi kaya raya. Orang tuanya bekerja sebagai manajer perusahaan di Kota Pati. Adi memiliki banyak prestasi di bidang akademik. Dia juga mahir bermain gitar. Sedangkan temannya, Budi memiliki kemampuan akademik pas-pasan. Nilai rapor Adi sangat memuaskan sekali. Punya Budi nilai rapornya hanya biasa-biasa saja. Sekarang mereka berdua sudah kelas XII.

Hari demi hari mereka lalui bersama. Suka dan duka mereka lewati bersama. Tiba saatnya UN. Adi bisa mengerjakan soal dengan cepat dan cermat. Kelihatannya bagi Adi soal-soal itu sangat mudah. Budi mengerjakan soalnya dengan perlahan namun pasti. Setelah UN yang lamanya 3 hari selesai, mereka merasa lega. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja.
Adi diterima di perguruan tinggi negeri yang sangat bonafit yaitu UDC. Sering diplesetkan menjadi Universitas Dokter Cinta. Tapi sebenarnya bukan itu singkatannya. Adi diterima melalui jalur SNMPTN. Budi yang dari keluarga kaya raya juga masuk ke universitas itu. Dia tidak melalui jalur yang resmi, melainkan melalui jalur belakang alias nyogok karena dia tidak lolos SNMPTN juga SBMPTN.
Tok...tok...tok...tok... Tampaknya pintu itu ada yang mengetuk dari luar. Pintu yang diketuk itu adalah pintu yang menuju ke ruang rektor. Kemudian masuklah seorang pria ke dalam ruangan itu. Dia adalah orang tua Budi. Ada yang bisa saya bantu?, tanya rektor. Begini pak. Saya ingin memasukkan anak saya ke universitas ini. Dia tidak lolos seleksi masuk. Dia sangat ingin kuliah di sini di fakultas kedokteran. Bisakah bapak membantu saya?, kata orang tua Budi. Oh begitu ya. Begini pak. Secara diam diam kami juga melelang kursi yang ada di sini. Tiap fakultas harganya berbeda. Kalau untuk fakultas kedokteran kami tawarkan harga 300 juta. Bagaimana pak?, rektor memberi info. Kok segitu ya. Kalau 200 juta bagaimana?, tawar orang tua Budi. Saya turunkan jadi 275. Berminat?, tanya rektor. 250 saja., tawar orang tua Budi. Baiklah pak. Kalau untuk bapak 250 saja lah. Bagaimana? Deal?, kata rektor. OK, deal., jawab orang tua Budi. Setelah melalui negosiasi yang cukup lama akhirnya disepakati orang tua Budi harus membayar sebesar 250 juta untuk memasukkan Budi ke UDC. Harga yang fantastis.
Akhirnya Budi dan Adi bisa masuk di universitas yang sama, yaitu UDC. Tentunya Budi dan Adi sangat senang sekali bisa masuk di universitas yang sama. Walau Budi masuk ke situ dengan cara yang tidak biasa, Budi tetap senang. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar