Minggu, 09 November 2014

Teori-Teori Pembentukan Jagat Raya

Teori Dentuman Besar (The Big Bang Theory)
 

Menurut teori ini, jagat raya berasal dari ledakan dahsyat dan galaksi akan meluas tanpa batas, serta galaksi tersebut tidak pernah kembali ke pusat jagat raya. Semua persediaan unsur-unsur diciptakan dalam setengah jam pertama sesudah terjadi ledakan, sehingga tidak dijumpai materi baru.


Teori Keadaan Tetap (The Steady State Theory)
 

Tahun 1948, teori kedaan-tetap atau teori alam semesta tak terhingga dicetuskan oleh Fred Hoyle, Thomas Gold dan Hermann Bondi sebagai alternatif dari teori ledakan besar (Big Bang theory). Teori ini tidak lebih dari perpanjangan paham materialistis abad ke 19 yang mengabaikan adanya sang Pencipta dan model semesta yang tanpa batas. Menurut model ini, ketika alam semesta mengembang, materi baru terus-menerus muncul dengan sendirinya dalam jumlah tepat sehingga alam semesta berada dalam “keadaan stabil”. 

Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory)
 
Teori ini dikenal pula dengan nama teori ekspansi dan konstraksi. Menurut teori ini jagat raya terbentuk karena adanya suatu siklus materi yang diawali dengan massa ekspansi (mengembang) yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen. Pada tahap ini terbentuklah galaksi- galaksi. Tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 miliar tahun. Selanjutnya, galaksi-galaksi dan bintang yang telah terbentuk akan meredup kemudian memampat didahului dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi. Setelah tahap memampat, maka tahap berikutnya adalah tahap mengembang dan kemudian pada akhirnya memampat lagi. 

Teori Materialis
 
Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada pada kebudayaan Yunani kuno dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham materialisme dialetika Karl Marx. 

Para penganut materialisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka.Misalnya dalam bukunya Principen Fondamentaux de Philosophie, filosop materialis George Politzer mengatakan bahwa ”alam bukanlah sesuatu yang diciptakan” dan menambahkan: ”Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”. 

Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta atatis abad 19 dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pertanyaan ilmiah. Namun sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini. 

2 komentar: