Jumat, 11 Maret 2016

Gaya Bahasa

Pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk melukiskan suatu maksud untuk membentuk plastik bahasa.
Plastik bahasa: daya cipta pengarang dalam membuat cipta sastra dengan mengemukakan pemilihan kata yang tepat memungkinkan “tenaga” yang sesuai dengan buah pikiran dan perasaan yang terkandung dalam karya itu.
          Gaya bahasa perbandingan
1.     Metafora: membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
                  Raja siang telah pergi ke peraduannya.
2.    Personifikasi: membandingkan benda mati atau tidak dapat bergerak seolah-olah bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia.
                  Angin berbisik membelai gadis itu.
3.    Asosiasi: membandingkan sesuatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan/gambaran dan sifatnya.
                  Wajahnya muram bagai bulan kesiangan.
4.    Alegori: membandingkan sesuatu secara utuh, membentuk kesatuan secara menyeluruh.
                  Pasangan itu telah mengarungi bahtera hidup selama bertahun-tahun.

5.    Parabel: membandingkan dengan menggunakan perumpamaan dalam hidup. Gaya bahasa ini terkandung dalam seluruh isi karangan, dengan halus tersimpul berupa pedoman hidup.
                  Mahabarata, Ramayana, Hikayat Si Miskin
6.    Tropen: membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata-kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan.
                  Ia mengubur dirinya saja sejak peristiwa itu.
7.    Metonimia: mengemukakan merek dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan, sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.
                  Ia naik honda bebek ke sekolah.
8.    Litotes: melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
                  Datanglah ke gubuk orang tuaku.
9.    Sineckdoche:
a)    Pars prototo: melukiskan sebagian untuk keseluruhan
                  Sejak tadi dia tidak kelihatan batang hidungnya.
b)   Totem proparte: melukiskan keseluruhan untuk sebagian.
                  Indonesia keluar sebagai juara umum dalam Asean Games.
10.  Eufimisme: mengganti satu pengertian dengan kata lain yang hampir sama artinya dengan maksud untuk menghindarkan pantang atau sopan santun.
                  Rupanya anak Saudara kurang pandai, sehingga tidak naik tahun ini.
11.  Hiperbola: melukiskan peristiwa atau kejadian dengan cara berlebih-lebihan dari yang sesungguhnya.
                  Hatiku terbakar, darahku terasa mendidih,  mendengar berita itu.
12.  Alusio: mempergunakan ungkapan atau peribahasa yang sudah lazim dipergunakan orang.
                  Kakek itu tua-tua keladi, sudah tua makin menjadi.
13.  Antonomasia: menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang sesuai dengan sifat orang tersebut.
                  Si Gendut sudah datang.
14.  Prifrase: mengganti sebuah kata dengan beberapa kata atau kalimat.
                  Kami baru sampai ketika matahari akan tenggelam di ufuk barat
          Gaya bahasa penegasan
1.     Pleonasme: menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkannya.
                  Ia naik ke atas.
2.    Repetisi: mengulang sepatah kata berkali-kali dalam kalimat yang lain dan biasanya dipergunakan oleh ahli pidato.
Cinta adalah keindahan. Cinta adalah kebahagiaan. Cinta adalah pengorbanan.
3.    Paralelisme: digunakan dalam puisi dengan mengulang kata-kata.
a)    Anapora: menempatkan kata atau kelompok kata yang sama di depan larik-larik dalam puisi secara berulang-ulang.
                              Kalau ‘lah diam malam yang kelam
                              Kalau ‘lah tenang sawang yang lawang
Kalau’lah lelap orang di lawang
b)   Epipora: menempatkan kata atau kelompok kata yang sama pada akhir larik dalam puisi secara berulang-ulang.
                              Kalau kau mau, aku akan datang
                              Jika kau kehendaki, aku akan datang
                              Bila kau minta, aku akan datang
4.    Tautologi: mengulang kata beberapa kali dalam sebuah kalimat.
Disuruhnya aku bersabar, bersabar, dan sekali lagi bersabar, tetapi kini aku tak tahan lagi.
5.    Klimaks: menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin memuncak.
Sejak menyemai benih, tumbuh, hingga menuainya, aku sendiri yang mengerjakannya.
6.    Antiklimaks: menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin melemah atau menurun.
                  Jangankan seribu, seratus, serupiah pun tak ada.
7.    Retoris: menggunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
                  Siapakah yang melarangmu berbuat bijak?
8.    Asindenton: menyatakan beberapa benda, hal, atau keadaan berturut-turut tanpa memakai kata penghubung.
                  Kemeja, kaos kaki, sepatu dibelinya di toko itu.
9.    Polisindenton: menyatakan beberapa benda, hal, atau keadaan berturut-turut dengan memakai kata penghubung.
Sebelum naik ke rumah, maka ditanggalkannya sepatunya, karena takut akan mengotori lantai.
10.  Interupsi: mempergunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di antara kalimat pokok guna memperjelas atau menekankan bagian kalimat sebelumnya.
Aku, orang yang sudah sepuluh tahun bekerja di sini, tidak pernah diberi hadiah.
11.  Praterito: menyembunyikan sesuatu serta seolah-olah menyeluruh, pembaca harus menerka apa ya ng disembunyikan itu. (Biasanya pembaca sudah dianggap memakluminya)
Kekacauan yang ditimbulkan peristiwa tersebut, tidak usah saya ceritakan lagi.
12.  Enumerasio: melukiskan suatu peristiwa agar keseluruhan maksud kalimat lebih jelas dan lugas.
                  Angin berembus, laut tenang, bulan memancar lagi.
          Gaya bahasa pertentangan
1.     Paradoks: kelihatan hanya pada arti kata yang berlawanan, padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya yang berlainan.
                  Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai ini.
2.    Antitesis: menggunakan kata-kata yang berlawanan artinya.
Cantik atau tidak, kaya atau miskin bukanlah suatu ukuran nilai seorang wanita.
3.    Okupasi: pertentangan yang mengandung bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasannya.
Candu merusak kehidupan, itu sebabnya pemerintah  mengawasinya dengan keras. Tetapi si pecandu tetap tidak dapat menghentikan kebiasaannya.
4.    Kontrakdisio determinis: pertentangan yang memperlihatkan pertentangan dengan penjelasan sebelumnya
                  Semua siswa hadir, kecuali satu orang sakit.
          Gaya bahasa sindiran


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar