Selasa, 02 Desember 2014

Cerpen Remaja (2)


Ku gendong tas hitamku. Di dalamnya telah ku siapkan peralatan perangku malam lalu. Sebatang pensil 2B sudah terasah tajam, sebatang penghapus putih, 2 ballpoint, serta tip-ex telah siap. Matahari baru bangun. Ia mengintipku yang tengah akan berangkat dari balik awan. Aku akan pergi ke medan perang, Ujian Penerimaan Siswa Baru di Sekolah Menengah Pertama. Dengan mengendarai motor tua ayahku, aku telusuri jalan demi jalan. Motor yang setia mengantarku selama 9 tahun ini sebentar lagi akan memiliki rute baru.

Aku telah berdiri di depan pintu gerbang calon sekolahku. Ku lihat anak sebayaku berlalu lalang dengan membawa sebuah buku. Dengan anak-anak itulah nanti aku akan memperebutkan sebuah kursi yang sangat penting. Sebuah kursi yang akan menentukan posisiku di sekolah ini. Dengan bermodalkan niat, ilmu yang kudapat dari sekolah dasar, serta doa dari orang tuaku, aku telah siap menaklukkan tes ini. Akan ku buktikan bahwa anak SD swasta juga dapat sekolah di SMP Negeri.
Bel berdering-dering. Tes dimulai. Aku bolak-balikkan kertas soal. Satu butir, dua butir, hingga berbutir soal telah ku babat habis. Waktu kurang 10 menit. Beberapa butir soal masih belum kukerjakan. Ku coba putar otakku. Aku juga mencoba mencari jawaban soal ini di sudut-sudut terpencil otakku. Nihil. Aku benar-benar lupa. Aku lihat sekeliling. Ada beberapa anak tampak mengerjakan dengan santai, ada yang sedang kebingungan, dan ada pula yang melihat hasil orang lain. Dan sayangnya, aku berada di golongan kedua.
Waktu kian menipis. Aku terus berusaha dengan mencorat-coret tak karuan di atas kertas buram. Bel berdering tiga kali, tanda waktu tinggal lima menit. Aku akhirnya menggunakan pilihan terakhir yang ada, menggunakan instingku. Dengan membaca sekilas soal demi soal, aku langsung menyilang jawabanku. Tepat pada saat bel berdering aku telah selesai. Dengan pasrah aku maju dan mengumpulkan hasil jerih payahku tadi.
Di rumah, perasaanku tak bisa tenang. Senang, kecewa, bahkan marah bercampur di hatiku. Lamunanku pun dibuyarkan oleh ketukan pintu. Ibuku masuk ke kamarku sambil membawa teh manis. “Bagaimana ujiannya? Mudah?” tanya ibuku. “Ya” jawabku singkat. Aku tak ingin beliau merasakan apa yang ku rasakan saat ini.
Menjelang hari pengumuman kelulusan, perasaanku semakin kacau. Makan tak enak, tidur tak enak, sampai buang air pun juga tak enak. Apakah aku akan lulus? Pertanyaan yang satu ini selalu membuat diriku gundah. Aku terus berdoa agar lulus ujian ini.
Hari pengumuman tiba. Dengan melangkah gontai, aku melihat papan pengumuman. Aku sengaja melihat papan pengumuman itu sore hari agar tidak berdesak-desakkan. Aku cari namaku di antara beratus nama di sini dengan telunjukku. Ketemu. Jariku bergeser ke kanan. Ku eja satu per satu huruf di sana. L-U-L-U-S, lulus. Aku tersontak kaget tak percaya. Aku ulang kembali membaca tulisan ini. Aku lulus. Aku langsung bersujud syukur atas karunia ini. Usai sudah perjuanganku di medan awal. Medan lain telah menunggu untuk ku taklukkan. Dalam hatiku telah ku tancapkan sebuah cita-cita. Aku akan menyongsong hari esok yang cerah untuk mencapai segala yang telah ku impikan. Aku telah memiliki bekal penting dalam menempuh perjalanan yang masih panjang ini. Ilmu, kerja keras, dan kesabaran adalah bekalku. Akan ku buktikan pada dunia bahwa aku, seorang anak dari keluarga berkecukupan mampu menaklukkan dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar