Selasa, 09 Juli 2013

Alfred Nobel, Penemu Dinamit. Mendapatkan 355 Hak Paten Semasa Hidupnya.


Dinamit ditemukan oleh seseorang multi talenta (kimiawan, insinyur, dan pebisnis) asal Swedia, Alfred Bernhard Nobel.
Perjalanan hidupnya tidak hanya mengurusi bahan peledak, Alfred juga dikenal sebagai dermawan yang mewakafkan hartanya untuk membuat Penghargaan Nobel.
Alfred memiliki 2 kakak lelaki, yakni Robert (lahir 1829) dan Ludwig (lahir 1831). Para putra Nobel mendapat pendidikan dari guru privat.
Mereka menerima berbagai pelajaran seperti ilmu alam, bahasa, dan sastra. Alfred sangat tertarik di bidang bahasa, kimia, dan fisika.
Dia lahir pada tanggal 21 Oktober 1833 di Stokholm, Swedia. Darah ilmuwannya turun dari sang ayah, Immanuel Nobel.

Sementara jiwa pedagangnya menurun dari ibunya, Andriette Ahlsell Nobel. Ayahnya adalah seorang insinyur dan penemu. Selain membuat jembatan dan konstruksi lain, Immanuel juga mengadakan percobaan peledakan batu dengan berbagai cara.
Saat Alfred lahir, bisnis ayahnya bangkrut. Pada tahun 1837, Immanuel Nobel mengadu nasib ke Finlandia dan Rusia, sementara sang ibu tetap tinggal di Stokholm dan membuka toko grosir untuk menghidupi keluarganya. Di St. Petersburg, Rusia, Immanuel membuka sebuah bengkel mesin yang memasok peralatan untuk prajurit Rusia.
Ia juga membuat Tsar Rusia dan para jenderalnya percaya bahwa ranjau laut bisa dipakai untuk menghalau kapal musuh yang menyerang St. Petersburg.
Ranjau-ranjau itu menghalau AL Kerajaan Inggris memasuki lapangan tembak St. Petersburg selama Perang Krim (1853-1856).
Setelah berjaya dengan usahanya, Immanuel memindahkan keluarganya ke St. Petersburg tahun 1842. Dan, pada tahun 1843, Andriette melahirkan putra yang diberi nama Emil.
Pada usia ke-17, Alfred lancar berbahasa dan menulis dalam bahasa Swedia, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman.
Ayahnya menginginkan agar ia mengikuti jejaknya. Ia memutuskan mengirim putranya itu ke luar negeri untuk belajar dan menjadi ahli kimia.
Di Paris, Alfred bekerja di laboratorium pribadi Profesor T. J.  Pelouze, kimiawan terkenal saat itu. Di sana ia bertemu kimiawan Italia, Ascanio Sobrero.
Setelah 3 tahun, Sobrero telah menemukan nitrogliserin, cairan berdaya ledak tinggi, yang dianggap terlalu berbahaya digunakan.
Alfred sangat tertarik pada nitrogliserin dan penggunaanya dalam pembangunan kerja. Selesai studi, Alfred kembali ke Rusia dan bekerja bersama ayahnya untuk mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak yang berguna secara komersial dan teknis.
Setelah Perang Krim berakhir, bisnis ayah Alfred mundur dan ia memutuskan kembali ke Swedia. Kedua kakak Alfred, Robert dan Ludwig, tinggal di Rusia untuk mencoba mengelola peninggalan bisnis keluarganya. Merekapun sukses dan meneruskan mengembangkan industri minyak di selatan Rusia.
Sekembalinya keluarga Nobel ke Swedia 1863, Alfred berkonsentrasi mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak. Percobaan ini menyebabkan bencana yang membunuh beberapa orang termasuk adiknya, Emil. Pemerintah Swedia memutuskan melarang percobaan ini dalam batas kota Stokholm.
Alfred tak berhenti dan melanjutkan percobaannya di tongkang di atas Danau McLaren. Pada tahun 1864, ia bisa memulai pembuatan massal nitrogliserin, tapi ia tak menghentikan percobaan  dengan bermacam bahan tambahan untuk mengamankan produksi.
Dari percobaannya, dia menemukan bahwa campuran nitrogliserin dengan tanah halus Kieselguhr akan mengubah cairan menjadi pasta yang bisa dibentuk menjadi batang, kemudian dimasukkan ke dalam lubang bor.
Penemuan ini terjadi pada tahun 1866. Alfred mendapatkan hak paten atas bahan ini pada tahun berikutnya.
Dari sinilah nama dinamit dimunculkan. Ia juga menemukan detonator atau sumbat peledak yang bisa dinyalakan dengan cahaya sumbu.
Penemuan tersebut dibuat saat bor bermahkota intan dan bor angin mulai dipakai secara umum. Digunakan bersama-sama, penemuan-penemuan itu membantu mengurangi kerugian banyak pekerjaan konstruksi seperti pengeboran saluran, peledakan batu, pembangunan jembatan, dan sebagainya.
Akhirnya Alfred bisa membangun pabrik di 90 tempat berbeda. Ia tinggal di Paris tapi sering bepergian ke pabrik-pabriknya di lebih dari 20 negara. Ia pernah digambarkan sebagai “Pengembara Terkaya Eropa”. Ia bekerja intensif di San Remo (Italia), Hamburg (Jerman), Ardeer (Skotlandia), Paris dan Sevran (Prancis), Karlskoga dan Stokholm (Swedia). Selain itu, ia juga membuat gelatin, balistit, batu permata tiruan, dan lain-lain. Bahkan mencoba membuat karet, kulit, sutra sintetis. Sampai kematiannya tahun 1896, ia telah mendapatkan 355 paten.
Alfred meninggal di San Remo, Italia pada 10 Desember 1896. Dalam surat wasiat dan testamen terakhirnya, ia menulis bahwa banyak dari kekayaannya bisa dipakai memberi hadiah kepada yang telah melakukan usaha kemanusiaan di bidang fisika, kimia, sastra, perdamaian, fisiologi, dan obat-obatan.
Saat menulis surat wasiatnya untuk menetapkan Hadiah Nobel, dia memasukkan hadiah untuk badan ataupun perseorangan yang memajukan perdamaian.
Pada tahun 1901, hadiah pertama Nobel dalam fisika, kimia, sastra, fisiologi, dan obat-obatan dibagikan di Stokholm, dan Hadiah Nobel perdamaian di Kristania (sekarang Oslo), Norwegia.

Sumber : Suara Merdeka, 5 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar