Minggu, 07 Juli 2013

Apa Manfaat Pesta Perpisahan Sekolah?



Rasa syukur sering diekspresikan dengan pesta. Tiap tahun selalu ada, salah satunya adalah pesta perpisahan sekolah. Ada yang menyebut wisuda, perpisahan, atau lainnya. Mulai dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Intinya satu, pesta. Kebanyakan lembaga pendidikan merasa gengsi jika tak melakukan acara pesta pelepasan itu. Baik sekolah swasta berbasis agama tertentu, swasta nasional, swasta internasional, sekolah negeri sama saja.

Semua orang tua murid “dipaksa” membayar biaya perpisahan itu. Bisa dibilang dipaksa karena setelah itu tentunya orang tua murid harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Mungkin untuk orang yang mampu secara ekonomi, iuran tambahan yang “tidak wajib, tapi diwajibkan” itu tidak menjadi masalah. Toh, para guru sudah “bermurah hati” menambahkan nilai dari yang seharusnya (ini pasti dilakukan semua guru), untuk anak mereka. Itu yang menjadi dilema ketika orang tua murid tidak mendukung adanya pesta perpisahan.
Zaman dulu, pesta perpisahan sekolah diadakan di aula sekolah dengan sederhana, sekarang demi gengsi dilakukan di ballroom hotel, restoran, sampai gedung pertemuan. Bahkan untuk beberapa sekolah tertentu, sampai mengundang bintang tamu artis/grup band terkenal. Tentu dengan tarif selangit.
Karena semua biaya harus dibagi dengan murid hanya satu angkatan, dihitung bersama orang tua mereka. Jika keluarga ingin ikut, harus membeli tiket ekstra yang juga tidak murah. Jika kita perhatikan, kebanyakan pesta yang diadakan itu sering tidak tepat.
Coba kita renungkan, apalah arti pesta perpisahan megah yang diadakan di hotel/restoran/gedung pertemuan, untuk anak TK dan SD yang masih belum tahu arti pesta itu? Di lain pihak, untuk anak SMP, SMA atau mahasiswa, mestinya sudah bisa berpikir lebih dewasa dan menyadari bahwa pesta semacam itu hanya memberatkan orang tua mereka.
Meski namanya orang tua, sekali pun berat dan tidak mampu, pasti ingin anaknya bahagia. Tentu akan berusaha memenuhi keinginan anak, terutama supaya anaknya tidak jadi minder, karena tidak ikut pesta. Yang bisa diharapkan sekarang adalah pengendalian dari instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan. Bukan berarti tidak boleh menyelenggarakan acara perpisahan sekolah atau wisuda, tetapi harus diawasi supaya tidak kebablasan.
Masih lebih baik jika acara dilakukan dalam bentuk yang lebih mendidik. Misalnya mengumpulkan buku dan seragam bekas untuk disumbangkan kepada orang yang kurang mampu atau ke panti asuhan. Memberi kenang-kenangan yang berguna dan pantas untuk para guru yang sudah mendidik.
Jika tetap bersikeras membuat pesta perpisahan, bisa dilakukan dengan lebih sederhana yang tidak memberatkan orang tua. Toh hampir semua sekolah yang menyelenggarakan pesta perpisahan punya aula sendiri. Kita harus mendidik anak-anak kita untuk hidup sederhana, meskipun secara ekonomi mampu dan berlebih. Menyenangkan anak tidak harus dengan kemewahan.
Dengan membiarkan dan mendukung pesta mewah berlabel perpisahan sekolah, justru akan mengajarkan anak menjadi manja dan ingin serba instan. Apakah akan kita biarkan anak-anak menjadi anak yang bermental lemah dan hanya bisa ikut arus hedonisme?

Sumber : Suara Merdeka, 29 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar