Minggu, 30 November 2014

Biografi Soichiro Honda

Soichiro Honda lahir pada 17 November 1906 di Hamamatsu, Shizuoka, Jepang. Dia anak pertama dari seorang pandai besi bernama Gihei Honda. Pada usia yang sangat muda, dia tertarik pada dunia otomotif dan membantu ayahnya dalam bisnis reparasi sepeda. Honda menyukai balapan dan menciptakan rekor kecepatan pada 1936. Wanita yang mendampingi hidupnya adalah Sachi, seorang wanita berpendidikan. Sachi tidak hanya berperan menjadi istri, tapi juga guru yang mengajarkan tata krama dan ilmu-ilmu dasar. 


Pada saat Honda berumur 16 tahun, dia tak mau melanjutkan sekolah. Karena ia menganggap sekolah saat itu hanya membuang waktu. Ia hanya ingin mendalami tentang mesin mobil. Akhirnya ayahnya mengenalkan kepada seorang temannya di Tokyo bernama Kashiwabara, seorang direktur bengkel mobil Art. Pada bulan Maret 1922, Honda diantar ayahnya ke Tokyo untuk bekerja di sana. Bukan sebagai teknisi melainkan ia hanya sebagai pengasuh bayi dari pemilik bengkel. Ia mencuri-curi waktu pada saat bengkel tutup untuk sekadar melihat dan menganalisa mesin mobil. 

Pada suat hari, saat Honda mengepel lantai, ia diajak majikannya untuk membantu di bengkel, karena hari itu bengkel sedang sibuk. Di sinilah ia menunjukkan kemampuannya membetulkan mesin mobil Ford model T. Dengan pengetahuannya, ia berhasil membuat takjub teknisi lain. 

Pada umur 18 tahun, ia pergi ke kota Marioka untuk membetulkan mesin mobil. Saat ia mulai membongkar mobil, banyak yang tak percaya ia bisa memasangnya kembali karena yang mereka lihat hanyalah anak muda berumur belasan tahun. Ternyata, ia berhasil membetulkan mobil tersebut. Dengan prestasinya, pada usia 22 tahun ia sudah menjadi kepala bengkel Art dan dipercaya untuk membuka cabang di kota Hamamatsu. 

Pada tahun 1928, Honda menjadi kepala bengkel Art cabang Hamamatsu. Awalnya bengkel tersebut hanya mempunyai seorang karyawan. Setelah 3 tahun berdiri, bengkel tersebut mempunyai sekitar 50 orang karyawan. Masalah perbaikan mobil diserahkan ke karyawannya, sedangkan ia hanya memeriksa hasil kerja karyawannya. Sebagai kepala bengkel, ia terkenal keras. Ia tak segan memukul karyawannya dengan kunci pas. Bekerja dengan Honda berarti ada 2 pilihan, yaitu pindah ke perusahaan lain atau belajar dengannya. Orang-orang yang bertahan bekerja dengannya adalah orang-orang yang menjadi teknisi handal. 

Honda bukan tipe yang puas dengan 1 keberhasilan. Dia banyak menginginkan gagasan yang perlu diwujudkan. Pada kurun waktu 3 tahun, Honda membuat pelek mobil yang terbuat dari besi. Saat itu, pelek terbuat dari kayu sehingga jika digunakan terus-menerus poros pelek tersebut akan longgar. 

Pada tahun 1933, Honda mulai membuat mobil balap yang ia namakan Curtis. Nama tersebut dari nama mesin yang digunakan mobil balap tersebut, yaitu mesin pesawat jenis Curtis A1. Dengan mobil yang ia buat, ia pernah menjuarai balapan. Pada saat itu, dia bukan sebagai pembalap, melainkan hanya sebagai navigator. 

Pada tahun 1934, Honda berencana membuat mobil sendiri. Ia tidak mengambil mesin mobil dari merek-merek terkenal di masa itu tetapi ia benar-benar membuatnya dari 0. Niatnya itu ia jalani dengan membuat ring piston terlebih dahulu. Pada tahun 1935, di samping bengkel Art ia membuat papan nama yang bertuliskan Pusat Penelitian Ring Piston Art. Ring piston buatannya selalu patah dan menggores dinding silinder karena ia sama sekali tak mengerti masalah pencampuran logam. Hal inilah yang membuatnya kembali ke sekolah pada usia 28 tahun. Ia kuliah di Sekolah Tinggi Hamamatsu jurusan mesin. Dengan informasi yang ia terima, akhirnya ia bertekad melanjutkan sekolah. Tiga tahun kemudian, ring piston berhasil dibuatnya. Pada tahun 1938, ia mendirikan pabrik pembuatan ring piston bernama Tokai Seiki. Bengkel yang ia kepalai diserahkan kepada karyawannya untuk dikelola. 

Pada tahun 1941, bengkel yang telah ia dirikan berproduksi secara resmi. Pada tahun 1945, setelah perang dunia kedua, Jepang menjadi negara yang tingkatannya rendah karena kalah dalam perang. Hidup Honda menjadi terlunta-lunta dan pada saat itu ia tak mengerjakan pekerjaan apapun. Ia tak memiliki niat lagi untuk membangun pabrik. 

Setelah perang, di mana benda-benda masih sangat langka, justru industri tekstil berkembang sangat pesat. Saat itu, Honda berpikir bagaimana membuat mesin tenun yang lebih canggih dari mesin tenun kebanyakan. Ia mendirikan pabrik pembuatan mesin tenun. Karena kurang modal, akhirnya pabrik tersebut berhenti berproduksi. Saat pabrik yang ia buat terhenti, ada seorang temannya yang menawarkan mesin pemancar radio kepadanya. Honda diminta untuk memanfaatkan mesin tersebut. 

Setelah melihat sepeda, ia berniat membuat sepeda motor dengan mesin pemancar radio yang ia dapat dari temannya. Cara mengendarai sepeda motor pada masa itu sangat berbeda dengan sepeda motor sekarang. Pertama, mesin dipanaskan dengan api dan digenjot minimal 30 menit, baru mesin bisa digunakan. Respon masyarakat saat itu sangat luar biasa. Dagangannya cepat laku hingga ia terdorong untuk memproduksi sepeda motor secara massal. 
 
Dengan prestasinya itu, Honda terus mengembangkan mesin sepeda motor dan akhirnya ia berhasil menciptakan sepeda motor yang ia namakan Dream D, setelah ia membuat mesin tipe A, B, dan C. Motor buatannya ini bermesin 2 tak dengan 98 cc dan kecepatan maksimumnya hanya 50 km/jam. 
 
Meski sepeda motor yang ia buat sukses, ternyata Honda terbentur masalah finansial bahkan terancam bangkrut. Honda memang seorang penemu dan mekanik yang sangat hebat namun ia tidak pandai mengelola keuangan. Hal inilah yang kemudian mempertemukan ia dengan Takeo Fujisawa seorang marketer hebat. Kemudian, kehadiran Fujisawa membawa perubahan besar terhadap perusahaan bernama Honda. Sebelum Dream D dipasarkan, Fujisawa menguji coba motor tersebut ke khalayak masyarakat. Karena Dream D adalah motor 2 tak, kebisingan yang dibuat benar-benar menjadi masalah. Fujisawa memaksa Honda untuk membuat mesin 4 tak yang miskin kebisingan. Akhirnya, mesin 4 tak dibuat dan berhasil menjadi nomor 1 di Jepang. Mesin 4 tak memiliki kecepatan maksimum mencapai 75 km/jam. Honda menelurkan produk yang sangat disukai masyarakat, hemat bahan bakar dan kecepatannya tinggi, yang menjadi trade mark Honda sampai saat ini. 

Honda menjabat sebagai presiden perusahaan hingga ia pensiun pada tahun 1973. Ia menyerahkan kursi kepemimpinan kepada Kiyoshi Kawashima. Kemudian tinggal sebagai direktur dan diangkat sebagai penasehat tertinggi pada tahun 1983. Setelah ia pensiun, ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang berhubungan dengan Yayasan Honda. Soichiro Honda meninggal pada tahun 1991 di usia 84 tahun akibat penyakit liver yang ia derita. Ia meninggalkan istrinya, Sachi dan seorang anak laki-laki serta 2 anak perempuan. 

"The Power of Dream" adalah salah satu motto pertama ketika perusahaan Honda Motor diluncurkan. Perjalanan kesuksesan Honda dalam menghiasi pasar otomotif dunia tidak diraih dengan cara yang mudah. Banyak sekali hambatan dan kegagalan-kegagalan yang menjadi rintangan dalam usahanya mendirikan perusahaan tersebut. Namun karena tekad dan kekuatan mimpi, Honda membuktikan bahwa setiap orang yang pantang menyerah akan berhasil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar