Minggu, 09 November 2014

Teori Pembentukan Tata Surya

Teori Nebula

 
Teori ini dikembangkan oleh Immanuel Kant (Jerman, 1775) dan Pierre Simin de Laplace (Perancis, 1799). Menurut teori ini, awalnya tata surya adalah berupa gumpalan kabut (Nebula) yang berputar. Mula-mula putaran kabut lambat. Karena adanya perputaran, volume dan suhu gumpalan berkurang dan akhirnya kabut ini menggumpal di pusat putaran, membentuk lempeng padat. Lempeng ini berputar semakin cepat sehingga ada bagian lempeng yang terlempar keluar dan kemudian mengalami penurunan suhu. Bagian yang terlempar ini kemudian menjadi planet-planet dan anggota tata surya lainnya. Inti kabut terus memadat, menjadi matahari.  

Teori ini berhasil menjelaskan bahwa tata surya datar, yaitu orbital ellips planet mengelilingi matahari hampir datar. Kelemahan teori kabut disampaikan oleh James Clerk Maxwell dan Sir James Jeans yang menunjukkan bahwa massa bahan dalam gelang-gelang tak cukup untuk menghasilkan tarikan gravitasi sehingga memadat menjadi planet. F.R. Moulton pun menyatakan bahwa teori kabut tak memenuhi syarat bahwa yang memiliki momentum sudut paling besar haruslah planet bukan matahari. Teori kabut menyebutkan bahwa matahari yang memiliki massa terbesar akan memiliki momentum sudut yang paling besar.

Teori Planetesimal
Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton mengemukakan teori yang dikenal dengan Teori Planetesimal yang berarti planet kecil. Teori ini menyetakan bahwa matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang. Suatu saat matahari berpapasan dengan sebuah bintang dengan jarak yang tidak terlalu jauh sehingga terjadi peristiwa pasang naik pada permukaan matahari maupun bintang itu, serta bagian dari massa mataharai tertarik kearah bintang. Pada waktu bintang tersebut menjauh, sebagian dari massa matahri jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi terhambur keluar angkasa disekitar matahari. Inilah yang dinamakan planetesimal yang kemudian menjadi planet-planet yang beredar mengelilingi orbitnya.

Teori Pasang Surut
 
Agak mirip dengan teori planetasimal, memaparkan bintang yang mendekat ke arah Matahari. Karena gaya tarikan dari bintang maka terjadilah pasang pada permukaan Matahari, atau terbentuk tonjolan ke arah bintang. Dengan menjauhnya bintang tonjolan tersebut, akhirnya terputus dan membentuk gumpalan di sekitar Matahari. Gumpalan itu kemudian membeku dan terbentuklanh planet beserta satelitnya. 

Teori Bintang Kembar
 
Menurut teori ini, matahari mungkin merupakan bintang kembar. Kemudian bintang satu meledak menjadi kepingan-kepingan. Akibat pengaruh gaya gravitasi bintang lainnya maka kepingan-kepingan ini bergerak mengitari bintang-bintang itu menjadi planet-planet. Bintang yang tidak meledak tetap sebagai bintang yang sekarang disebut dengan matahari. 

Teori Awan Debu
 
Carl Von Weiszzacker, G.P. Kuper dan Subrahmanyan Chandarasekhar mengemukakan suatu teori yang dikenal dengan Teori awan debu. Menurut teori awan debu : “Bahwa di sekitar matahari terdapat kabut gas yang membentuk gumpalan-gumpalan dan secara evolusi berangsur-angsur menjadi gumpalan padat. Gumpalan kabut gas tersebut dinamakan Proto Planet. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar