Rabu, 17 Juni 2015

Teks Eksplanasi Geng Motor

Geng Motor, Komunitas Motor atau Perilaku Kotor ?

            Gangster atau yang sering kita sebut sebagai geng motor adalah kumpulan pemuda yang mempunyai itikad atau perilaku buruk yang hanya meresahkan masyarakat. Seakan keberadaan mereka hanya menjadi sebuah momok menakutkan bagi masyarakat, karena unsur dan tujuan yang ada dalam perkumpulan geng motor ini merupakan unsur dengan tujuan negatif

Anggota geng motor pada umumnya adalah remaja laki – laki yang masih berusia belasan tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan, terdapat remaja perempuan dalam sebuah geng motor. Seperti di Batam, sebuah geng motor membuka pintu untuk remaja perempuan yang ingin bergabung dengan geng motor tersebut. Berbeda dengan remaja laki – laki yang hanya melakukan aksi kejahatan agar diterima di geng motor tersebut, remaja perempuan yang ingin bergabung dituntut tidak hanya bisa melakukan aksi kejahatan, namun harus siap menerima perilaku tidak senonoh yaitu ditiduri oleh semua anggota laki – laki dalam geng motor tersebut.


Tentu, tindakan seperti itu sangat memprihatinkan. Yang lebih memprihatinkan adalah mereka masih di bawah umur, seusia SMP dan SMA. Tetapi tidak sedikit gadis – gadis tersebut yang bangga setelah lolos tes dan bergabung dengan geng motor tersebut. 

Aksi - Aksi yang dilakukan oleh geng motor tidak hanya berkeliling dengan motor yang mereka kendarai, terkadang mereka juga melakukan aksi balap liar, kriminalitas, dan penganiayaan baik antar geng motor lain maupun masyarakat. Seperti kejadian di Subang, 2 Februari 2015 lalu, 5 anggota sebuah geng motor yang bernama Brigez, melakukan penganiayaan terhadap seorang warga  berinisial AS (17 tahun), seorang anggota geng motor Moonraker. Penganiayaan seperti ini seringkali dilakukan dengan motif balas dendam yang belum terselesaikan.

Kemudian, aksi yang paling sering dilakukan oleh geng motor adalah balap liar. Balap liar dilakukan pada tengah malam. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari keramaian orang dan aparat kepolisian. Tentu saja aksi kebut – kebutan ini membahayakan jiwa mereka. Dalam balapan liar ini, terselip juga oknum – oknum nakal yang memanfaatkan kondisi ini untuk ajang taruhan.

Tidak sedikit juga geng motor yang melakukan tindak kriminalitas, seperti merampok, mencuri, dll. Seperti kejadian di Makassar, pada 30 November 2014, sebuah kelompok geng motor melakukan perampokan di sebuah Alfamart di jalan Borong Raya, kecamatan Manggala Makassar. Tidak hanya mengambil uang, mereka juga mengancam nyawa seorang pegawai dan merusak kaca Alfamart.

Perilaku- perilaku di atas dapat terjadi karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap putra putrinya. Orang tua sebagai pembimbing utama si anak seharusnya mengarahkan putra putrinya untuk belajar. Tetapi, jangan lupa memberi kesempatan si anak menikmati waktu luangnya. Kalau bisa, Peran sekolah juga sangat vital dalam hal ini. Sekolah seharusnya memberikan sosialisasi betapa bahayanya apabila seseorang sudah masuk ke dalam pergaulan bebas.
Namun, apabila tindakan preventif di atas masih kurang, ada cara lain untuk mencegah perilaku brutal geng motor yaitu dengan meningkatkan pengawasan yang dilakukan aparat keamanan baik di desa (Hansip dan Linmas) ataupun di kota (polisi). Warga juga dituntut berperan aktif untuk mengatasi permasalahan ini.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar